klik mail to: sarabunis@indo.net.id

Proses Kreatif

Bagi saya, sebagai penyair kampung yang tinggal jauh dari kota besar, jauh dari informasi dan ekspresi kesenian yang bermutu, menulis puisi -dan sesekali cerpen- adalah menjalani hidup. Saya tak pernah berfikir untuk menjadi penyair, dan tak pernah peduli apakah harus terus menulis, atau mempermasalahkan masa depan kepenyairan saya. Bagi saya menulis itu adalah menjalani hidup. kalau toh harus berhenti hari ini, esok atau kapanpun, itu adalah sesuatu hal yang biasa-biasa saja, atau bahkan jika itu lebih baik bagi saya, saya siap menerima dan menjalaninya.

Terus menulis. Itu intinya. Bersama kawan-kawan di Sanggar Sastra Tasik (SST) kami berteriak untuk terus menulis. Berpuluh bahkan berratus penulis yang tak henti-hentinya datang dan pergi dari Sanggar Sastra Tasik (SST) membuat saya lebih yakin bahwa kepenyairan itu membutuhkan keterpanggilan dan konsistensi. Jika saya esok atau lusa atau kapanpun berhenti menulis, berarti saya telah selesai memenuhi panggilan kepenyairan dan konsisten menjalankannya, selesai membuat sejarah kepenyairan paling tidak bagi diri saya sendiri.

Pertanyaannya, Mengapa saya terus menulis? Mengapa terus-menerus mau dan selalu harus menulis? Disadari atau tidak, bagi saya menulis puisi ternyata telah menjadi candu yang membuat kepala pusing dan konak jika keinginan menulis muncul dan tak terekspresikan. 

Dalam menulis puisi, saya sangat percaya bahwa segala yang kita tulis hari ini terhubung dengan perenungan-perenungan kita di masa lalu, meskipun saat perenungan tidak dimaksudkan untuk menulis puisi. Jadi hanya yang kualitas merenungnya baik yang akan menghasilkan puisi yang bagus.

Pada awal-awal belajar menulis puisi, tentu saja saya mengalami proses-proses. 

bersambung......

 

Home
Puisi
Cerpen
Proses Kreatif

desain web oleh : sarabunis@indo.net.id