Make your own free website on Tripod.com

                                       klik mail to: sarabunis@indo.net.id

Puisi Indonesia

Puisi-puisi  Sarabunis Mubarok

DARI BAKAUHUNI

  

sebuah selat

menjadi botol-botol kenangan

dan lutut-lutut lelah

yang menumpang kapal megah

menjadi luapan soda

di botol kenanganku yang pecah

 

dari bakauhuni

laut menghitung kenangannya sendiri

sementara aku mengayuh masa lalu

dengan kecerdasan yang buntu

bukankah di darat pun diusik mimpi

sebuah rumah atau warisan tanah

atau ibu yang rindu menantu

atau asap-asap cemburu

bisakah diangkut perahu

dari botol-botol kenanganku

 

dari bakauhuni

aku menjengkali hati

sampai merak

sampai laut menolak ombak

sampai berbotol-botol kenanganku

menjadi anggur yang terus kuteguk

sampai mabuk dalam jutaan kata

yang jatuh dan kujatuhkan

pada botol-botol sunyi

yang bangun dan kubangunkan

pada botol-botol puisi

 

2003

 

PUISI-PUISI BARU

 

di antara musik-musik risauku

telah disisipkan zikir-zikir asing

yang meloncat ke masa depan

sekaligus merindukan pemakaman

selalu saja terdengar batuk ayahku

menggerayangi puisi-puisi baru

dan selalu aku memendam doa

dalam sehimpun diam yang tajam

 

seperti kesederhanaan yang kupilih

kembali kuhalau salam mikail

ke kampung halamanku yang cacat

masih juga sumpah-sumpahku

mengerangkengi kata-kata yang lelah

dan seperti kegelisahan yang lemah

akar-akar pikiranku memuai

membelit sajak-sajakku yang lunglai

 

tetapi di pangkal tidurku

harus kususun mimpi-mimpi

yang paling mengesankan

sekaligus paling mencekam

bukankah suatu saat akan tergilir

ribuan doa yang setiap malam kuukir

bukankah suatu saat akan menerkam

ribuan puisi yang setiap malam kugandakan

 

2003

SAJAK KEPULANGAN

 

pohon-pohon palma

tiang-tiang listrik yang menyala

ruas-ruas jalan raya yang murka

menjadi doa-doa yang kucerap

dengan kepala yang berat

 

demikian rindu mencapai kota

setelah tahun-tahun sulit

memindahkan wajah ibuku

ke kanvas basah yang dicelupkan

dan diwarnai warna kulitku

 

tetapi selalu harus ada yang dibunuh

sekolah rendah ayahku

sawah warisan kakek buyutku

tanah sempit pekuburan keluargaku

selalu meneteskan darah abu-abu

 

sampai aku memutar arah

setelah lelancip jam menikam langkah

selain maskumambang yang kutembang

bermungkin-mungkin aku terus berenang

menyebrang tangis mensorga remang

 

kini aku harus berburu

di tanah kuburan ari-ariku

di tapak payah 10 tahun sakit-gembiraku

demikian sulit melelang kota

yang terus membelukar di kepala

 

2003

 

TAHUN KELAHIRAN

 

Tahun kelahiran pun menjadi daun-daun

pisang yang merimbuni kebun keluargaku.

Dan musim biru mengasuh serdadu,

melampaui kecerdasan ibu-bapakku.

Lalu tiap kepala membentuk wajah serupa

dalam  bait-bait sajak dukun beranak.

 

Pada pelepah usiaku yang mengusung

purnama di titik terlambat  arah jarum jam,

tahun kelahiranku memahat gadis pada rumah,

ketika nada-nada minor siulan bapakku,

menghentikan biji-bijian mencinta tanah,

dan birahi yang dikucilkan musim basah.

 

Kini, Segala yang merambat membagi

jarak pada peta jiwaku yang berwarna. Tak ada

musim panen yang melahirkan tahun bisu,

selain ibuku, menunggu menantu di jalan buntu.

Selain aku, menanam tahun dalam puisi, tumbuh

menjadi anak-anak yang kulahirkan sendiri. 

 

2003.

 

 

 

MANUSKRIP MASA LALU

 

Pada pori-pori ibuku, aku menyusu keringat

bersama rasa cinta yang mengkilap. Ke timur

arah  kembara, telah kumuntahkan jarum jam

yang mendarah dan mendaging dalam ruhku.

Bukankah tak pernah tidur segala rasa sakit,

ketika rumah mesti dibangun puluhan tahun,

ketika jelaga mesti dihisap sebelum cahaya

bulan siap menginap.

 

Menuju fatamorgana, pada hari raya yang

mencerna duka cita. Aku menggoyang lonceng

dan memastikan kegembiraan telah bertengger

di ujung tanduk. Tapi bukankah ibu harus

memasak masa lalu, untuk disuguhkan pada

anak-anaknya dan ayahku yang menggadai

lapar pada tahun-tahun yang menggelegar.

 

Bersama nyanyian adikku yang menghibur

boneka kayu, aku mengira segala yang

sederhana, yang telah kuteguk dengan

terpaksa, harus kumuntahkan perlahan-lahan.

Tapi bukankah segala yang bersinar, menerangi

kesempurnaan. Sempurna memiliki hidup

yang bermakna bersama cacat beraneka rupa.

 

2003.


 

MASKUMAMBANG

 

Ribuan tahun sebelum Yesus, pada masa

dingin yang lama. Aku telah disiapkan menjadi

pengganti Adam untuk merindukan bau perempuan.

Sebau lumut yang menyulut bayang-bayang kabut

pada sajak-sajak yang menjemput. Sebau rumput

yang mengitari jeritan liar pada mantra garis tangan.

 

Di tanah lembab, bersama punggung binatang

yang memuai ke hutan-hutan. Ribuan tahun

setelah Nuh menurunkan berpasang-pasang

mahluk di pulau-pulau surut. Aku rupanya

telah disiapkan untuk berlayar bersama seratus

perahu yang dibangun di hutan-hutan.

 

Tapi lenguh kampung halaman mengirim kelambu

pada sajakku, ribuan hari setelah kakek buyutku

berpoligami. Bisakah mengucurkan kantuk, ketika

di jalan buntu tersusun serdadu. Bisakah bersembunyi,

ketika mimpi terus menari, menyihirku menjadi siput

yang berkarat di pohon-pohon yang terpahit .

 

2003.  


 

KUPIKUL TAHUN-TAHUN UNIK

 

Kupikul tahun-tahun unik melewati sungai

merah yang membujur ke selatan menuskrip

kehidupanku. Puisi-puisi mengepulkan

amarah, melewati wajah teduh, melewati

daun bergetah, melewatiku besama peluru

yang menunggu di dini hari yang perih,

menunggu mulut senjata yang berpeluh.

 

Menulis lagi. Kata-kata jadi perahu yang

digerakkan kematian. Tinta menjelma ombak,

memuntahkan gairah pada sajak-sajak mentah.

Kupikul terus sampai ke batang telinga, menyisiri

bulu-bulu singa betina, bulir-bulir padi kering,

penganan cinta yang menyuguhkan diri sendiri.

Kupikul sampai ke langit-langit risauku,

sampai ke mulut-mulut masa lalu.

 

Lalu peluit kereta mengundang orang-orang

segera berperang. Aku bersenyawa dengan

angka sambil terus memikul dengan gembira.

Kepala-kepala suku, cahaya-cahaya lampu,

rumah-rumah beratap keriput, menyandera

makna-makna. Aku terus memikul, melewati

penyakit bumi, melewati karma yang ngeri,

mencapai mantra-mantra dengan sembilu

yang mengerat ribuan kembara.

 

2003.


 

KUIN CINTA

-buat gadis berkerudung yang terkurung

 dalam kaca spion sebuah angkutan umum

 

Ijinkan kubakar dupa di hatimu. Sebab

doa-doa tak pernah cukup membuatmu

berpaling muka padaku. Ijinkan kukuliti

segala yang menatapmu. Sebab kutahu

tak ada yang lebih jingga dari matamu.

 

Di setiap dinding kapal karam, ijinkan

aku membungkam cemburu. Bersama

anak-anak telanjang yang menghamili

sungai-sungai perawan, ijinkan aku

menelan auramu yang paling tajam.

 

Biji kacang mana lagi yang berkecambah

dalam darahku, ketika kau akan memilih

memandangku dengan sangat hati-hati.

Maka ijinkan aku mengucurkan puisi ke

sungai yang bermuara di lesung pipimu.

 

Jika arang cintaku mengabu di lipatan

kerudungmu, ijinkan aku menyetubuhi

setiap helai rambutmu. Jika tidak, akan

kupastikan anak-anak yang kaulahirkan

kelak, menyerupai setiap sajak-sajakku.

 

2003.

 


MEMASUKI PETI MATI

 

Mimpi tentang datangnya sebuah kekasih,

mengembangbiakkan puluhan keris yang tumbuh

di taman-taman buku. Bagaimana harus kubusurkan

hati, ketika puisi tertancap di pohon-pohon lapuk.

0Bagaimana tak mengunyah bara, ketika musim paceklik

di ladang kata-kata, memercikkan api ke garis usiaku

yang melambat.

 

Aku memahami pekabungan sebagai ibu tiri dari

risau-risau yang memukau. Mengapa harus menjelagakan

asap-asap perih yang mengitari hari-hari kasat mataku.

Ketika ibuku terus menembang, tajam mendesak ke

sajak-sajak, ke rasa cemburu, ke rasa cemburu yang lantak,

ke masa depan yang memihak, ke anak-anak bulan,

anak-anak sunyi yang kusembunyikan di antara suap

dan kunyah zikir-zikir semediku.

 

Bersama kitab-kitab sastra yang membajak kematian,

aku mengairmatakan rayuan-rayuan. Ramalan bayi sinis

yang kelak merayap di punggungku, darah yang menyingkap

mitos rumit dari angka 13 selasa pahing kelahiranku,

tenung asmara, jimat-jimat dan mantra-mantra, melulu

menganaksungaikan kepenyairanku, melulu meninju

kepuasan dari sakitnya sumpah-sumpahku.

 

2003.


MIJIL

 

Ke sawah-sawah kehidupan, kupadikan

kembara-kembara yang menyumbat arah

dosa-dosaku. Kubajak masa lalu, sajak-sajak

yang berurutan di rambut ayahku, hari-hari

manis yang dimatangkan rasa sakit, kubajak

dan kunasikan doa-doa, sebelum bubur

disajikan untuk sakit-sakit yang terberat.

 

Melalui payah-payahku, kukendalikan

bendungan yang dibanjiri airmata ibuku.

Kusekat ratusan warna, pada peta yang

menyesatkan cuaca, kukemaraukan masa

depan yang menjejali kepala, setiap jumat,

setiap aura-aura menempati kitab keramat.

 

Lalu aku merimbun selaik daun, memilah

cahaya yang mencongkel risau ke barisan

paling depan. Kuangkakan harapan-harapan

kering, ketika kata menyusun ambigu yang

menggunung, ketika peta sawahku mengusir

burung-burung. Dan kusungaikan haru-biru,

meluapkan peluh-peluh ragu, menandingi

biji-biji usia yang terus berkecambah bersama

siasat-siasat mentah.

 

2003.


HARI-HARI MENGELAMBU

 

menjaring tebaran padi yang berkabung di hatiku.

Raung ambulan, dering telpon dan sumpah palsu

menginjak urat kemiskinanku. Di setiap jejak langkah,

kukristalkan angan-angan yang membedah sajak-sajak

asing dan memuntahkan bunga-bunga kering.

 

Menjembatani wajah murung yang menggunung,

Aku menikai jam dan memburu detik-detik paling

mencemaskan. Kilau kunang-kunang, bias lensa minus,

desah berat masa depan yang membius, melintang, dan

mengepalai risau-risauku. Memantrakan igauan-igauan,

mencapai lengkingan rasa sakit yang mengesankan.

 

Mengeranjangi senyum-senyumku yang tergadai. Dan

seperti sepertiga kesempurnaan yang menyempit, aku

menolak kedatangan ribuan doa yang dihembuskan,

menahan jengukan tajam harapan ambigu yang

disengketakan, meyakini keberuntungan sebagai

selasar hari-hariku yang mengelambu, dan meragukan

cacat semediku, memenuhkan mimpi yang diburu,

di usia paling mencekam dan harubiru.

 

2003.


 

MEMASUKI PIPA BESI

 

memasuki pipa besi

bersama arus yang tak kukenali

aku menyembul ke langit

menjadi rahasia

dan lututku menegang

punggungku melayang-layang

sementara ujung lidahku

mendulang emas di bumi

mencari tulang-tulang sulaiman

yang disembunyikan kecemasan

 

memasuki pipa besi

bercampur keluh yang mematri

aku berkarat

dengan risau yang menyengat

usiaku mendongkel peta

sementara keringat ayahku

menjadi percikan api

dan tubuhku menjadi kayu

di gundukan risau-risau

yang menghitam

 

memasuki pipa besi

bersama tahun-tahun nyeri

aku berbagi kepala

dengan sajak yang menyala

sementara ibuku menari

kebun-kebun mendaun

membunga lebam

membuah di titik merah

titik hatiku yang berloncatan

 

2003

 


 

BANGKU-BANGKU KAYU

            -buat  M. Chodi

 

dan bangku-bangku kayu

malu-malu melewati usiaku

mengapa berlari ke putaran waktu

ketika tahun-tahun dihuni cemburu

 

dan hutan-hutan suci

berkali-kali menyebrang sunyi

mengapa menghendaki mati

ketika detik-detik diputar mimpi

 

dan orang-orang jepara

pura-pura menepuk dada

mengapa memilih sebuah nama

ketika peluh berubah warna

 

dan kawan-kawanku

sama-sama memecah ambigu

mengapa harus meng-arang kayu

ketika sajak-sajak mengirim abu

 

2003


TANAH KELAHIRAN

 

memecahkan kendi kata

di patahan masa muda

di gulungan tahun bisu

di mulut pun tertebar kelu

di setiap alun kegembiraanku

 

sementara pulang ke rumah

ditangkal ribuan gelisah

ditulisi jam-jam tabu

di mana semestinya bercumbu

di mana semestinya mencemburu

 

menderu tahun-tahun pelik

di atap pekik dan tingkap bisik

di pori-pori yang membiak

di sini maut-maut retak

di gugusan sajak-sajak

 

sementara kampungku mengerut

dipunggungi tenung kabut

di mana seharusnya membaca

di mana semestinya mengira-ngira

di sana-sini ditumbuhi mantra

 

2003.


 

KEMBALI KE KAMPUNG HALAMAN

 

kembali ke kampung halaman

menanam  airmata sepanjang jalan

akhirnya datang juga musim hujan

akhirnya memucuk setiap harapan

 

kembali ke kampung halaman

menawarkan berita ke jantung jaman

sedang anak panah menembus masa

sedang hatiku mengalirkan darah cinta

 

kembali ke kampung halaman

memaksakan menggusur jamban

tempat meminum kegembiraan

tempat mencuci ulang sedu sedan

 

kembali ke kampung halaman

bersama lenggang sisa menuliskan keinginan

mengapa di kepala ibu-bapaku tumbuh uban

mengapa sajak-sajakku ditumbuhi dedaunan

 

2003.


 

RONGGENG GUNUNG

 

o pemilik raut kabut

o tubuh bernafas maut

o jiwa bergulung sabut

mari menenung kalut

bersama nyanyian kemat

bersama tarian keramat

 

o lelaki bersayap api

mari bernyanyi

diiringi gending buhun

di malam seribu pantun

 

o kaki-kaki telanjang

mari menari

berlenggak menisik bunyi

berlenggok mengenal bumi

 

o mata batin yang miskin

mari melewati para kahin

menyusur suluk gunung

menebak gerak ronggeng

 

o tenaga-tenaga janji

o serat-serat relung hari

o mantra-mantra urat nadi

mari membaca sunyi

bersama sesaji hati

bersama puisi

 

2003


 

BERSAMA TENGKORAK *)

 

besama tengkorak

aku meminjam kuburan

untuk dipajang

di selasar hatiku yang kusam

begitu juga huruf-huruf

terus menyusup

melewati keringat yang panas

menjelma batu nisan

pada puisi-puisi yang kutelan

 

bersama tengkorak

aku mengafani keluargaku

dengan lembar-lembar sajak

mengapa harus tercipta masa lalu

ketika waktu menjadi satu-satunya

yang mesti kusetubuhi

mengapa harus tercipta masa depan

ketika bayi-bayi jam

mesti kukandung sendiri

dan melahirkan ribuan puisi

 

bersama tengkorak

aku mempetimatikan kata-kata

sedang hari-hari mengirim selimut

ke khusuk semediku yang keriput

dan di ubun-ubunku

telah tumbuh ratusan belati

sementara aku menenung sperma

mencipta mantra

yang menghantui sorga-sorga

 

2003

 

*) judul drama karya Rachman Sabur


 

 

SAMPAI DI TUNJUNGAN

 

sampai di tunjungan

hatiku telah dipenuhi hari-hari

yang disusutkan asin garam

di sini segala yang memendar

dan segala yang tergelar

menjelma kabar

 

di sepanjang kota yang lelah

hatiku dipenuhi bubuk mesiu

yang dihembuskan rambu jalan

aku memburu bising

yang melenting ke kulit kepala

orang-orang yang beruban

sebelum waktunya

 

di trotoar di mana perempuan

dan lelaki dengan nafas kuda

memilihku sebagai arca

aku melistrik dan memercik

sambil menyeru lampu-lampu

untuk bersinar tanpa cemburu

tapi di sini tak ada yang tahu

bahwa segalanya abu-abu

 

dari kerumitan plaza yang menggoda

surabaya tetap saja sebagian umurku

berapa yang mesti disiasati

ketika riuh lebih berarti dari sunyi

berapa yang harus dirampas

ketika dusta  lebih bermakna dari cemas

 

2003

 

 

MENJADI PENYAIR

 

 

Demi pasir, batu dan air susu ibu yang membentuk

beton bagi mercusuar jiwaku. Aku bertolak dari selasar

usia, dari kampung para penyamun bagi orang-orang

yang bernyali lempung. Selesai mengasuh bakau yang

menahan sebuah pelayaran yang membingungkan.

 

Demi gelas bening, airmata tawar dan senyum 

 

hambar yang mereguk malam untuk meminjam cahaya,

melulu aku menjadi fatamorgana, melulu warna-warna

pucat yang dipantulkan ke tenggara arah perjalanan

yang sia-sia.

Demi siput dan segala yang melata. Aku berlari

tak henti-henti. Memberi jarak pada akar-akar rambut

yang mandul. Ke kebun-kebun tahun yang ditumbuhi

pohon-pohon kebahagiaan. Aku terus berlari,

mengunjungi rumah-rumah semut, mencari senyum

yang memaniskan jendela kayu, palang-palang pintu,

dan semua kunci yang gembira di setiap stasiun

dan dermaga.

 

Demi musim dan cuaca yang tak bersahabat.

Aku melawan diri sendiri dengan bom waktu

yang kuaktifkankan di jiwaku empat tahun lalu.

 

2002.

 

Klik Arsip  puisi lainnya


Home Up Next

(c) Sarabunis@indo.net.id

Home
Puisi
Cerpen
Proses Kreatif
Arsip  puisi lainnya

desain web oleh : sarabunis@indo.net.id