klik mail to: sarabunis@indo.net.id

 

Menu puisi Sunda
Menu puisi berbahasa Indonesia
Arsip  sajak Sunda

 

ARSIP  PUISI SARABUNIS MUBAROK

 

IPUH

 

Dataran tinggi yang lengang, ratusan beruk lintang-pukang,

pohon-pohon bergumam, delapan belas tahun silam.

Aku menyusu ke sungai, menata jiwa di riak air yang risau,

menyaksikan orang-orang beruban di usia duapuluhan,

menyimpulkan masa kanak-kanak tak lebih dari selarik

sajak tentang setumpuk kenangan apak.

 

Bengkulu yang miskin di Asia Tenggara yang garing.

Cuacanya lebih lebam dari sorot mata perempuan

primitif. Kota-kota jadi bayangan indah di air keruh.

Di sini orang-orang mengusir babi hutan sambil

mendendangkan lagu-lagu kasidahan. Hutan-hutan

menyalami ladang garapan sambil mengirim sepasukan

hama tanaman. Tapi aku tumbuh lebih subur dari

jamur di selangkangan pokok kayu, dengan kegelisahan

yang dihanyutkan hujan ke bibir lautan.

 

Dusun sepi itu kini menghantui kehidupan para

pendatang. Pohon-pohon kopi dan cengkeh mengokang

harga diri dengan nyali yang terlipat di lembaran uang

recehan. Musim kemarau menjadi satu-satunya keresahan.

Segalanya telah dikirimkan ke tanah Jawa, ke telinga

orang-orang, dan kepadaku yang merindukan bahasa hutan.

 

Ipuh, dusun bisu itu, tetap saja sebuah kenangan.

Aku hanya mengira masa kecil lebih indah dari puisi.

Rahasia buah arbei, dan sesuatu yang memalukan tentang

ulat-ulat sialan, ternyata lebih bermakna dari sunyi.

Dan aku hanya ingin terus mengira-ngira. Karena sesuatu

yang pasti ternyata tak ingin aku cari.

 

2001.

 

 

KAU BUKAN PENYAIR

 

Kau bukan penyair kau pendusta.

Kau bukan pena Tuhan yang menulis kesejatian

 

Kau bukan penyair kau pendusta.

Penyair membangun sujud dalam sajak, merangkai dzikir dalam syair

sampai mabuk kata-kata dalam keabadian bercinta dengan pencipta.

 

Kau bukan penyair kau pendusta.

Kauberatkan timbangan cinta pada berahi yang menggila.

Kau mengada-ada yang tiada dan meniadakan yang khusuk bercinta.

Kau menggharibkan kemesraan tahajjud dan menipiskan harapan

kekasih yang merindukan taman Aden.

 

Kau bukan penyair kau pendusta.

Penyair menggali sumur airmata dengan tasbih yang jernih.

Penyair menebalkan jiwa dengan anggur tasyahud dan wangi ma’rifat

dari tien dan zaitun yang disumpahkan Tuhan.

 

Kau bukan penyair kau pendusta.

Kau menggembala kata-kata di ladang nafsu dunia.

Puisimu bukan kebun firdaus, puisimu gurun yang tandus

Setelah kota-kota kaupindahkan ke gunung-gunung yang meletus.

 

Kau bukan penyair kau pendusta.

Kau sembahyang pada sajak yang terbakar api neraka

 

Dengarkanlah sajak peyair yang mendengar adzan dengan sabar

Dengarkan pula (dengan pura-pura) sajak penyair yang (pura-pura) 

mendengar adzan dengan (pura-pura) sabar. Dan lupakanlah

sajak penyair yang melupakan adzan, karena tuhan mencintai penyair

yang mencintai Tuhan.

 

2000-2001.

 

 

 

MELINTASI SELAT SUNDA

 

Sampai di Pelabuhan Merak, enam belas tahun silam,

tanganku serasa masih berlabuh di laut kegelisahan. Perjalanan masih

kuanggap suci, seperti mata kanak-kanakku yang memercikkan

kesedihan. Kucium harum pulau Jawa dengan kerinduan yang

membusakan mimpi-mimpiku. Kugandeng tangan ayahku sambil

menirukan deru kapal-kapal di pelabuhan. Tiba-tiba kudengar doa

ibuku di negeri seberang, pelan dan perlahan-lahan. Seperti segenggam

cinta yang rebah dalam cuaca negeri Andalas yang meradang.

 

Sampai di Pelabuhan Merak, enam belas tahun silam,

hatiku semestinya diisi puisi yang bersinar keemasan. Airmata yang

mengalir, menyuburkan daun-daun jiwaku. Kukenang ibuku

menembangkan mijil sambil mengupas helai demi helai daun jagung.

Aku menyungsangkan pikiran dalam ombak Selat Sunda yang

mengucapkan selamat datang, meski masih kudengar kawan

sepermainanku membangkitkan kesunyian menjadi sesuatu

yang paling ungu dan paling mengharukan.

 

Sampai di Pelabuhan Merak, enam belas tahun silam,

aku membidik cahaya ibuku dari dermaga paling sunyi. Tapi hatiku

masih saja termangu dalam lingkaran pertanyaan yang sesak. Di tanah

Jawa, aku harus membangun piramida dari seribu harapan yang

menggunung di pundakku, seperti kelak ayahku terbang melintasi masa

kanak-kanakku yang lebih sejuk dari air di telaga batinku.

 

2000-2001.


 

SEBAB AKU INGIN SENDIRI

 

Kembali mengukir kenangan di kepala, membuntuti

hari yang kering, dan berpura-pura sepi. Tak

ada yang mengetuk pintu dengan salam atau

ciuman ganas. Aku melupakan perbincangan

setahun lalu, dan benar-benar koma

dalam bahasamu, seperti semedi-semedi yang

kujalani, seperti warna kulitku yang mengucur

ke sungai.

 

Suara angsa mana lagi yang mewarnai iman-imanku

di telaga. Setelah tulang-tulangku keras, kering,

beku dan menghijau seperti pohon-pohon bambu

yang gila itu. Kukatakan rindumu teramat terjal.

Kau menyiksa diri dengan kesunyian. Haruskah

kutuliskan airmatamu, atau kuhisap saja tubuhmu

dalam hujan, sebab aku ingin sendiri, meski

kenangan itu memalsukan seribu puisi.

 

2001


 

SUNSET DI KUTA

 

Sunset di Kuta, matahari mencelupkan dirinya

ke laut pasang. Geliatnya yang perlahan menjamah

tiap jengkal kulit sampai payudara para turis

mancanegara. Geliatnya itu pula yang menjamah

hatimu yang disesaki sajak klasik tentang tuhan

yang terus berbisik.

 

Tapi Tuhanku benar-benar mengirim matahari

kepadamu, setelah tatto di punggungmu meragukan

iman yang kemerahan. Kau telah melirik Tuhanku,

Pitut, seperti wajahmu melirik satu klik kamera

photo tanpa cahaya. Di pantai Kuta, di suatu

senja yang bertenaga.

 

Sunset di Kuta, Kau menyeberangi banyak agama.

Tuhan kita kini sama,. Tuhan bagi perempuan yang

kautanami sperma, Tuhan baik hati bagi anak yang

akan dilahirkannya kelak. Selamat, Pitut, rawatlah

Tuhan barumu itu baik-baik. Dan ingat!

 Jangan buat Ia marah.

 

2001.

 

 

 

ATAU JANGAN MENCINTAI PENYAIR

 

Menyelesaikan perselingkuhan, menabukan cakrawala berahi

yang kehitaman, melengkapkan sujud-sujud beku dengan

sentuhan pelipismu yang kemerah-merahan. Kau direstui

pertanyaan-pertanyaan bisu, kata-kata itu pernah mencair

di sudut dingin istikharohku. Selesaikanlah, selagi pohon-pohon

mengigau dengan bahasa yang mengkilap. Kau tetap kutunggu

di sela-sela rumpun bakau, meski riak cintamu mengental

dalam ombak terakhir syair lautmu.

 

Selesaikanlah! Sampai jariku mengejang dalam sajak kemesuman,

sampai kuukir perempuan yang menebarkan asap ke kelamin yang kelelahan.

Selesaikanlah! Kaupun akan tetap menangisi rindu yang membakar tubuhmu

dengan seribu ejakulasi yang merdu. Atau jika

tidak, bunuh dirilah dengan gembira, sebab aku adalah kata-kata,

lebih ganas dari keris yang menembus, lebih kejam dari macan

kelaparan, lebih kuasa dari cemburu yang menderu. Selebihnya

aku hanyalah doa, semestinya itu yang membuatmu jatuh cinta.

 

1999-2001.


 

DI KAMPUS UDAYANA

 

Aku menemui kawan di ujung trisula pulau Dewata.

Di keruh puisi secangkir kopi, sebuah mantra untuk

meramal nasib seorang gadis, untuk menggurau malam

yang mengigau di ufuk risau. Jalan Nias yang manis,

warung-warung yang enggan mengemis, membawaku

merumput di Denpasar yang mengetat.

 

Aku melupa puisi, seperti orang Bali lupa membuat

sesaji di Kumbasari. Sebuah percakapan rupanya lebih

berarti dari sepi. Tuhan-Tuhan Hindumu dan Tuhanku

yang kuperkenalkan padamu, menyeretku pada satu

pertanyaan yang terus menekan:

Apa pernah mereka sendiri saling berkenalan?

 

Kampus yang halus, mengangkangi upacara-upacara

serius. Aku masih menyangka percakapanku sebuah

pengembaraan. Tapi puisi mengajari hidup yang lebih

curam. Meski satu-satunya yang ingin kulupakan adalah

pulang. Sampai aku harus mengakui, bahwa setiap rumah

diwarnai hati, dengan merah yang tak selalu serupa.

 

2001.

 


 

RIAK

 

Riak merendah, semua resah

Sebuah kenangan, rindukan tepuk tangan

 

Riak naik, merompak ombak

Segalanya karam, menumbuh sumpah serapah

 

Riak diam, suara tak lagi menjadi kata

Tapi anehnya menjelma sebuah cerita

 

Riak hilang, ini keanehan yang terang

Ternyata sunyi, ibu kandung seni puisi.

 

1998-2001.


 

BANDUNG

(inilah sebuah peringatan untukmu, karena semata-mata

engkau ingin diperingati di hari ulang tahunmu)

 

engkau lahir

serupa biji di sebuah tanah dataran

dimana hujan menjadi tuhan yang dinantikan

 

jika engkau tumbuh

serupa pohon di sebuah bukit rumputan

dimana hujan menjadi tuhan yang dipaksakan

lalu engkau rimbun

serupa daun di sebuah hutan buatan

dimana hujan menjadi tuhan yang disangsikan

lalu engkau mekar

serupa bunga di sebuah taman kratonan

dimana hujan menjadi tuhan yang ditirikan

lalu engkau ranum

serupa buah di sebuah kebun rumahan

dimana hujan menjadi tuhan yang diguyonkan

lalu engkau laris

serupa barang di sebuah pasar kagetan

dimana hujan menjadi tuhan yang diasingkan

lalu engkau nikmat

serupa manisan di sebuah meja restoran

dimana hujan menjadi tuhan yang diabaikan

lalu engkau harum

serupa kotoran di sebuah wc jalanan

dimana hujan menjadi tuhan yang diendapkan

lalu engkau gembur

serupa pupuk di sebuah ladang sewaan

dimana hujan menjadi tuhan yang dicampakkan

lalu engkau mahal

serupa tanah di sebuah lahan cadangan

dimana hujan menjadi tuhan yang disingkirkan

lalu engkau bangga

serupa kota di sebuah daerah rawan

dimana hujan menjadi tuhan yang dilupakan

 

engkau sakit!

negeri yang dihujani tuhan-tuhan baru

serupa kita mengunyah abu dan bom waktu 

 

2001.


 

 

MENEMUKAN MAHLUK YANG BERNAMA PEREMPUAN

 

Aku datang sambil memecahkan botol minuman,

sambil menaburkan abu mayat bromocorah ke setiap luka.

Terdengar alunan para penyair bodoh dengan sajak-sajak

lugunya. Aku mengumpulkan kayu bakar sambil mengingat

sandiwara di negeri berpenduduk setengah manusia. Kuhitung

urat-urat yang putus di sebuah klub lagu-lagu porno. Semuanya

menjadi ‘lazim’, ketika tanganku tersentuh kata-kata lembut

dari tubuh bergaun tipis yang bernama perempuan.

 

Aku datang ke sebuah dunia yang dipenuhi wangi cendana.

Pohon-pohon arba mengulang-ulang lambaian mabuknya.

Kaki-kaki telanjang menjebak mata, mengetuk beberapa kepala,

mencari jawaban teka-teki sambil mengolok-olok sunyi. Aku

merobek sehelai kafan dengan tangan berdarah. Lalu kusapu

bulu matanya yang runcing itu dan kutaburkan ke celana

orang-orang. Sampai kutemukan liur dari pabrik lotion,

mengalir di selangkangan harum yang tanpa parfum.

 

Aku datang untuk menjinakkan tatapannya yang liar,

ranting-ranting akasia menancap di jiwa. Sebuah usungan

berhiaskan hurup-hurup Cina mengiringi sebuah upacara.

Aku merangkulnya dengan tiupan hangat dan deburan ombak.

Senyum dinginnya menginsyafi pertemuan itu. Aku menunggu

di dermaga, meski ia sudah meronce bunga lely dengan

benang kepura-puraan.

 

Aku datang lagi ke hatinya. Kubayangkan ia mengurai rambut

sambil menyuguhkan kopi manis yang di seduh senyuman panas.

 

1999-2001.

 

 


CEMBURU

 

Ada yang terkubur dalam amarah

Dihiasi bunga kegelisahan

Sebuah kenangan masih perawan

Menikam berkali-kali sampai mati

 

Ada yang menyulut kerinduan

Dengan api dendam yang liar

Sebuah kenangan masih perawan,

Menikam berkali-kali, sampai mati

Menikam berkali-kali, sampai mati

Menikam berkali-kali, sampai kematian

menjemput berkali-kali. Menjemput berkali-kali,

Sampai kehidupan menikam berkali-kali.

 

2001.


 

 

SEBUAH PINTU

 

Sebuah kehidupan kecil yang sempurna.

Sehimpun rencana sejuk dengan garis halus

yang menembus sisipus.

 

Ia adalah atmosfir bagi dzikir yang terulur lembut

di jelaga ngungun kabut. Mencipta cakrawala yang lelap,

di ufuk-ufuk musim yang mengendap.

 

Ia adalah kawah yang sunyi ,sumber mata air

dengan kesabaran yang mengalir. Pengasuh

magma kembara bagi jiwa-jiwa yang jingga.

 

Ia adalah sawah yang gembira, gundukan

humus-humus masa lalu dan lumpur-lumpur cinta

yang dirindukan musim hujan

 

Ia adalah sungai yang bermuara ke sorga.

Mencipta banjir yang indah. Membagi kasih

ke kolam tasbih yang dihuni ikan-ikan keabadian

 

Ia adalah tanjung-tanjung yang teduh.

Jalan menuju firdaus, tempat memintal iman,

menukil badai, melunak karang, menjinak ombak,

menuai buih yang paling putih.

 

Ia adalah senyum yang jinak.

Kita tak perlu mengetuk, ia senantiasa terkuak.

Selalu saja sulit untuk memasukinya.

 

2001.


 

API ITU

 

Ia menyamar dalam sepi-sepi yang kujalani.

Nyaris menghancurkan belukar imanku yang

tumbuh tak terurus. Nyaris mendidihkan lautan,

tempat di mana  aku merompak sepercik sifat Tuhan. 

 

Asap-asap keruh mengurung jelaga

di tempurung kehidupanku yang sesak.

Cuaca yang renta, cakrawala yang menua,

sebuah gerak salsa, di ujung jiwaku yang menderu.

 

Teranglah wahai kampung-kampung gelisahku!

Aku percaya, panasnya tak sederas cinta.

Ia menyilang bagai  bayangan di cermin buram,

Sesuatu yang kuakrabi bertahun-tahun silam.

 

Tapi ia kubawa juga ke sujudku yang singkang

dan kering. Aku meleleh, menjadi lilin,

mengartikan kelam sebagai masa paling bersejarah,

Tiba-tiba aku menganggap misteri sebagai

satu-satunya tarian samar yang selalu menakjubkan.

 

2001.


 

RAMADHAN YANG RIMBUN

 

Inilah bulan madu paling teduh.

Setubuh termesra dari subuh sampai

langit luluh. Ciuman terjernih sang kekasih

yang memagut ruh-ruh yang shalih.

 

Katakanlah! Kau akan menggaulinya

sampai segalanya cemburu. Sampai

tercapai puncak-puncak kepuasanmu.

Menggeledah seribu bulan, melengkapkan

kasidah yang mengalun di dahan ampunan.

 

Yakinilah! Bunga-bunga mengirim

madu lewat kumbang-kumbang-Nya.

Memaniskan bulan yang disulam jarum

tajam. Melengkapkan adzan dengan

sembilan puluh sembilan nama Tuhan.

 

2001.


 

ADALAH GERHANAKU

 

Aku berlari, dengan mimpi berdesing-desing,

di ujung kampung sunyi, di batas kota senyap.

Di mana batu mendidik pasir, pasir mengajar debu.

Segalanya abu-abu. Sungguh serba menipu.

 

Kenangan merah, nyanyian semak berdarah,

di separuh usia yang melepuh. Aku menjadi udang, 

berenang, meloncat, mencapit syahwat di kelamin

yang mengerat. Digigil tarian cinta yang kesumat.

 

Masa muda, o, masa muda.

Lecutlah aku di penjaramu!

Aku adalah lonceng yang berdenting nyaring.

Memilin kehidupan yang lekang.

Merangkak dalam cahaya. 

Mendendang symphoni yang tak selesai kumaknai.

 

Kini aku mengembara, di lelap usia yang memaksa.

Aku adalah senjata dengan peluru kata-kata

yang membidik diri sendiri, melahap katup-katup sepi,

memilih jalan tercuram yang dicemburui orang-orang.

 

2001.


 

MEMASUKI SEBUAH RUMAH

 

Tiba-tiba, anak-beranak menanam sajak di sawah keruh.

Segalanya subur. Musim panen menghibur daun padi

sambil berpura-pura menangis. Sungai-sungai kliwon,

airnya yang kehitaman, mengokang doa-doa fana,

mengurung mantera di runcing selogan yang mencerca.

            Tiba-tiba aku dikendalikan cinta.

 

Tiba-tiba, gerimis menjelma jarum-jarum

yang menusuk kulit. Mengalirkan darah kental.

Menghidupkan mayat-mayat puisi,

meramaikan kota mati. Menyindir penyair pandir

yang merantau dipulau-pulau asing

Segalanya cemburu, segalanya abu-abu.

Tiba-tiba aku diburu sehimpun ragu.

 

Tiba-tiba, suara-suara menjadi panah yang menembus

kegelisahan. Segalanya runtuh. Pohon-pohon palem,

kawat-kawat telpon, rumput-rumput muda,

 lelaki setengah baya, menjemput kata-kata

di pelabuhan sunyi, dimana hati berlayar tanpa kendali

Tiba-tiba aku berhenti nulis puisi.

 

2001.

 


 

SEBUAH SUNGAI

 

Selalu saja aku menyusuri masa lalu, hutan

kanak-kanak yang ditumbuhi pohon-pohon cinta.

Hutan yang gila, garis-garis jiwa yang gembira.

 

Selalu saja aku menghanyutkan rumah mungil

yang dihantui pintu-pintu ganjil. Dongeng indah

dengan lukisan sunyi yang sinis. Dongeng basah

bagi aura yang tertakar kegelisahan.

 

Selalu saja aku menenggelamkan masa depan

yang menggulung di akar-akar samar. Kehidupan

yang tercipta dari sepotong doa dan sepotong cemburu.

Dunia yang aneh, tempat berlayar, tempat mengapung,

Tempat tenggelam, dan terhempas ke pulau cadas.

 

Selalu saja aku meluap ke bibir ladang, membanjir

ke utara arah cuaca. Meringkus arus yang ganas

dengan sajak-sajak yang beriak. Selalu saja aku curiga.

Dan hanya percaya bahwa pengembaraan adalah

tidur pendekku yang paling nyenyak.

 

2001


 

SAMBIL MENCIUMI BATU

 

Sambil menciumi batu, aku menyusur Sanur di gelak senja yang

terulur. Sebuah peta memaksa layang-layang mengangkangi

cakrawala. Deburan  ombak menembak bayangan para pelancong

yang melengking di karang-karang. Aku mengasuh pasir di laut

dangkal, meringkus perahu-perahu waktu, menindih risau

di teluk hatiku yang berkilau.

 

Sambil menciumi batu, aku mereguk laut, memecah resah sambil

mengajak nyiur untuk berdzikir.  Orang-orang Bali memijat  para

pendatang seperti  Sanur menghibur matahari yang tenggelam.

Aku duduk  di sebuah restoran yang riang. Membayangkan ritus

kehidupan yang diruncingkan norma-norma, tanpa segan

menghentikan satu-satunya dunia yang berputar di dada.

 

Sambil menciumi batu, aku membelakangi pantai, mengerat jalan

di pesisir yang diburu lembaran uang. Benda-benda antik, imajinasi

yang kental dan sakral, membuat masygul orang-orang asing yang

hambur. Aku membalas salam seorang perempuan seperti pendeta

membakar kemenyan di puri khayangan. Lalu malam mengantarku

ke sebuah kamar dengan sebentuk unik upacara klasik.

 

Sambil menciumi batu, aku tertidur di gegar Denpasar yang kemarau.

Memimpikan malaikat menjemput maut yang berkarat di sisa

usiaku yang pahit. Aku menunggu pagi, sementara orang-orang

melewatkan semedi di masa muda, dan mengakhirinya dengan

sebuah ringkih dunia yang tak mungkin bisa terbawa. sampai

aku terjaga dengan gigil syair yang terus memanggil.

 

Sambil menciumi batu, aku mengukir puisi palsu di bibir anganan ,

dimana Sanur mendesir amarahku yang bersahutan.

 

2001.


 

MESIN PERANG

 

Tiada maaf bagi peluru tajam.

Tembuslah! Tembus terus bentang sejarah.

Perang ini memang indah.

Darah menggegar amarah,

semua merah, semua tumpah.

Semua menggangsal tanah,

bau mesiu, taburan abu,

perang ini memang merdu.

 

Jebaklah! Hancurkan segalanya

atas nama kemenangan.

Jangan mundur, kau terlanjur menggempur.

Kawat-kawat duri, mayat-mayat nyeri

menghantam nyali. Kau harus selalu menembak.

Kau harus selalu berontak.

Tembuslah! Tembus terus bentang sejarah.

Mari bertaruh! Semuanya pasti terbunuh.

 

Mesin perang, o, mesin yang singkang.

Menerjang hidup di garis belakang.

 

Mesin perang, o, mesin yang garang.

Mesin bopeng, mesin hati yang bertopeng.

 

2001.


 

GADIS KRIAN

 

Dialah Gadis Krian yang menyilaukan, di antara

riuh buruh pabrik jamu, di Jawa Timur yang terus

menjalar. Dari sudut paling samar sorot matanya

seperti lampu pijar. Aku melukisnya dengan

warna-warna ganas, di bawah kawat telpon

yang membentang ke arah kiblat.

 

Dialah yang membuat pohon-pohon palem cemburu,

burung- burung betina menjanda seketika, lilin-lilin

meneteskan air mata, menghunus cahaya yang samar

dan porak poranda. Tiba-tiba hatiku mengalirkan listrik

yang memercik. Aku menulis puisi dengan bahasa

bising, bak kumbang mengurung kembang di kebun

jiwaku yang kerontang.

 

Krian yang mencekam, Sidoarjo yang rentan, di hari

terakhirku yang buram. Seorang gadis yang kutanam

dalam kepala yang sakit, menjemput musim yang

murung, di hutan kenanganku yang legam. Di sebuah

persimpangan, aku menerkam wajahnya sekali lagi,

seperti kemarin sorot matanya mengaum liar,

dan meluluhkan puisi-puisiku yang memar.

 

2001.


 

DI LEMBANG

: Corry Layun Rampan

 

Udara teramat dingin. Ilalang liar menembus malam

dengan airmata mengendap. Kau kusekap  di tanah

tinggi, dalam percakapan kental yang direnangi kantuk

ringan. Menggembala ruhmu di hutan kalimantan,

di kampung ratusan suku yang fasih berbahasa isyarat.

 

Kabut kian sesak, aku memagari puisi dengan segulung

senyum ombak, ketika kausulutkan sepi pada kata-kataku

yang murung. Lalu kauruntuhkan segenggam imajinasi

yang paling hitam, seperti aku menggadai mimpi dalam

nyenyak tidurku yang memental ke bukit terjal.

 

Malam memelas cemas, percakapan terbakar di tungku

pemanas. Aku memandangi lukisan yang mengendap

di dinding. Membayangkan kau mengetuk sebait sajak

yang kutabrak dengan bahasa gerak. Tapi kau terus saja

memujiku dengan teori-teori generis yang terlalu sinis.

 

Lembang yang tajam, Bandung Utara yang terperam,

Aku menghangatkan percakapan dengan hati terpejam.

Menyisir ungkapan ringan di situs-situs yang mengendus.

Meyakini warna anganan, hanyalah benang tipis yang

menghubungkan segenggam talenta ke masa depan.

 

2001.


 

SINGAPARNA, KOTA KECIL ITU

 

Melewati jalan aspal, iramanya berdebu, sebuah

mesjid yang megah dengan menara sederhana,

memaksa orang-orang ke surga. Aku disambut

Alun-alun yang demam, belasan delman dengan

kusir yang pening, pedagang tape dengan daun

waru yang keriput, anak-anak belasan yang

melagak, mengasamkan cuaca seketika.

 

Di pasar, orang-orang menimbang barang sambil

bermimpi naik haji. Aku meminta tukang-tukang

sate untuk tidak menusuk daging anak istrinya.

Meminta para kuli untuk tidak menjaja keringat

sambil berpura-pura sakit. Meminta orang-orang

segera mengemas barang, dan memulai menanam

uang di ladang, sebab kota tak selalu bisa setia.

 

Sebuah pertokoan yang ramah, masih juga menyisir

sopir yang fakir. Orang-orang dari desa memupuk

satu-satunya toserba dengan mimpi masa panen.

Aku mencium daun padi yang pedih, kota kecil yang

memuji-muji para petani yang masa depannya dicuri.

Semua serba miring, barang-barang mengejang,

dijingjing televisi ke kampung-kampung.

 

Singaparna yang kaku, di Tatar Sukapura yang

ambigu. Aku mendekap masa lalu, sambil menunggu

bom waktu, menanti matangnya buah simalakama.

 

2001.


 

KUPINTAL GARIS GARIS KENANGANKU

 

Kupintal garis-garis kenanganku di hutan. Kulit-kulit

pohon menanti musim yang rendah hati, hewan-hewan

bersuka-cita merayakan sebuah gerhana. Aku memanjati

tebing ekstase dengan tali kegelisahan, mereguk madu

yang disangsikan tawon-tawon, menisik hati dengan

duri-duri perak yang mengurai ke dasar jurang yang jinak.

 

Kupintal garis-garis kenanganku di sungai. Batu-batu

berdialog dengan hujan. Para pemancing menyuap umpan

ke jiwaku yang kelaparan. Sampah-sampah buas mengirim

salam ke kota resahku yang terbelah. Aku menangis dengan

airmata yang meluapkan banjir, menindih janji, mencincang

anganan yang berkali-kali menyudutkan masa silam.

 

Kupintal garis-garis kenanganku di laut. Mengasuh

terumbu karang yang miskin, cuaca yang tawar, riak yang

mengendur, memayau air, memaksa ikan mendendam

para nelayan. Aku terus tenggelam, dari perahu yang

digerakkan suara seram. Sisanya hanyalah sepucuk rindu,

sebuah sinar cemburu yang disunting mercusuar.

 

Kupintal garis-garis kenanganku di langit. Angin menarik

mendung dari wajahku yang diburu granat tangan. Burung-

burung elang yang sombong membopong bulan dengan

paruhnya yang tajam. Sementara aku, masih menghitung

bintang, dan memerahkan dunia dengan suara adzan yang

parau, di sebuah surau yang dicerca musim kemarau.

 

Kupintal garis-garis kenanganku di kuburan. Di batas sepi,

di batas ramai, di himpitan jendela yang merdeka. Aku tak

percaya bahwa jati menggugurkan daun-daunnya dengan

terpaksa. Ia menyadari bahwa humus menyuburkan tanah

dan merimbunkan daun, sebuah kuburan yang menyehatkan

hidup. Aku ingin merawat dan memberinya pupuk.

 

2001.


 

IBU PUN BERLABUH

 

Ibu pun mengayuh, danau-danau membiru,

menghalau burung-burung untuk menyebrang.

Tahun-tahun menenun selimut, di senja yang

keriput. Ibu terus mengayuh dengan seribu

diam yang tajam. Seorang anak menjebak

cuaca, di sebuah sungai yang gemulai.

 

Ibu pun berenang, bersama ikan-ikan yang

memeram umpan. Air susunya menyandera

cahaya, menusir cakrawala di lelah kembara

yang kesumba. Ibu terus berenang, membawa

sarang, menunggu ombak menggulung jajirah

rindu yang lembut melulu, lembut melulu.

 

Ibu pun berlabuh, di kampung-kampung keluh,

di gundukan pasir yang memutih. Tapi tak ada

sumur yang lebih dalam dari cinta. Tak ada sawah

yang lebih basah dari doa. Segalanya berubah,

segalanya terlampau rahasia. Ternyata ibu

menemukan sebuah kota pada anaknya.

 

2001.

 

 

 

RUANG TUNGGU

 

Sambil mencemburui hawa yang sakit, menyingkap

siang yang kalap, orang-orang menjengkelkan kehidupan

dengan diam yang mengkilap. Aku meminum waktu,

dan menyemburkannya ke gerak cuaca yang  kasar.

Menahan jam, menggesernya ke selatan kota hatiku

yang berakar.

 

Asap-asap pelan, menjemput nyawa yang tak perawan.

Dinding kayu, atau segala yang membentang, menghakimi

bola mataku yang lantang. Aku terus memburu kata-kata

yang membanjiri kepala, melahap sepi dan mengunyahnya

hingga kental, mengakhiri ujung-ujung pisau yang menghujam,

 mencapai dunia yang kumerdekakan diam-diam.

 

Siang dengan nyali yang menggenang. Aku menghakimi

keresahan. Lalu jam, mencekik usiaku seharian,

dan menawarkan kematian yang paling mengesankan.

Tapi orang-orang terlalu sinis menjawabnya dengan mimik

yang mengiris. Sementara segala yang dikumpulkan,

berbaris begitu panjang, menuju arah musim yang tertahan,

memanen usia di sawah-sawah basah yang kehijauan.

 

2002.


SUATU SORE DI SEBERANG SEBUAH GEREJA

 

Yang bergerak sesak di trotoar, selalu saja memungut bulu mata

keturunan Tionghoa yang berpura-pura miskin. Yang tersenyum

seperti bara, laiknya salib yang menghantui cuaca, sorot matanya

meminang perempuan yang melahirkan bayi di dingin udara.

Tapi asap di sini mengajariku berduka, meski kau tak hentinya

menghitung satu-persatu jari kakiku dengan seksama, sambil

memaksakan sebuah persaudaraan dan menawarkan sebotol

darah yang kecoklatan.

 

Mari kita panik, selagi kita masih miskin, demikian lidahmu, saat

memanjang ke menara gereja yang segar. Masih saja terdengar

suara burung menghina wajahmu yang kusut. Mayat-mayat

masih membayangi kakilima yang rajin menyuapi para penyanyi

lagu rohani. Masih saja kauhijaukan ingatanmu untuk membaca

arah persembunyian. Tapi hujan di sini, tetap saja menjadi bensin,

dan membakar setiap telinga yang masih mendengar. Tiba-tiba

segalanya menjadi sangat menggiurkan. Tentu saja, karena

kau telah lebih dahulu berlari menjauhi garis pertempuran.

 

Tapi kau masih saja menganggapku saudaramu, meski dengan

diam-diam kemiskinan itu kugarami di pusat-pusat pertokoan,

meski kerap kucelupkan kepalamu ke pasar-pasar swalayan,

dan yang masih kuhisap hanyalah sebuah angan-angan. Mirip

seekor angsa yang hanyut di sungai susu, kau memanggil

mimpi-mimpiku ke liang botol, sementara aku telah menjadi

ayah bagi ribuan anak yatim yang merindukan film kartun

di kerutan celana dalammu.

 

2002.


MENJADI PENYAIR

 

Demi pasir, batu dan air susu ibu yang membentuk

beton bagi mercusuar jiwaku. Aku bertolak dari selasar

usia, dari kampung para penyamun bagi orang-orang

yang bernyali lempung. Selesai mengasuh bakau yang

menahan sebuah pelayaran yang membingungkan.

 

Demi gelas bening, airmata tawar dan senyum hambar

yang mereguk malam untuk meminjam cahaya,

melulu aku menjadi fatamorgana, melulu warna-warna

pucat yang dipantulkan ke tenggara arah perjalanan

yang sia-sia.

 

Demi siput dan segala yang melata. Aku berlari

tak henti-henti. Memberi jarak pada akar-akar rambut

yang mandul. Ke kebun-kebun tahun yang ditumbuhi

pohon-pohon kebahagiaan. Aku terus berlari,

mengunjungi rumah-rumah semut, mencari senyum

yang memaniskan jendela kayu, palang-palang pintu,

dan semua kunci yang gembira di setiap stasiun

dan dermaga.

 

Demi musim dan cuaca yang tak bersahabat.

Aku melawan diri sendiri dengan bom waktu

yang kuaktifkankan di jiwaku empat tahun lalu.

 

2002.


 

PERAHU OLENG

 

Menangislah di sini, seperti gerimis yang mengiris jendela

rumahku. Kitab-kitab usang, sepucuk senjata yang kering,

doa-doa tumpul dan bau mulut yang menyembul, adalah

pemandangan paling resmi setelah setahun mesjid-mesjid

bersembunyi. Kau terlanjur membangun surau dari buih

yang berkilau, mengiringi tangan kiri, mata kiri dan hati

sebelah kiri bermunajat, saat Amerika Serikat dan Eropa

Barat bersekutu menentukan arah kiblat.

 

Menangislah di sini, seperti gerimis yang mengiris jendela

rumahku. Suara-suara kota yang mengendap di telinga,

dan bahan-bahan kimia yang menginap di kepala, mengirim

sebentuk retorika yang beranak-pinak dan terus bergerak

ke barat daya arah doa, berunjukrasa kepada tuhan yang

disembunyikan di balik analisa psikis dan teori-teori sufistis.

Tapi kau masih saja membaca peta, sambil tak hentinya

menggarami laut dengan tanda kutip dan tanda tanya.

 

Menangislah di sini, seperti gerimis yang mengiris jendela

rumahku. Menemani palawija yang dipanen para petani 

mandul. Bersama burung kertas yang dilipat anak-anak hasil

perselingkuhan. Menangislah! Selagi kampung-kampung

memiliki tungku dan kayu bakar, selagi para pemburu berpihak

pada musim dan arah angin. Menangislah! Meski kau

seharusnya gembira, karena perahumu yang oleng itu, bisa

membuatmu berhati-hati dalam mengayuh dan menentu arah.

 

2002.


 

SEBUAH SUARA

 

“Ibadahlah kalau kau mau,

jika tidak mau, tak apa-apa tidak juga.”

 

Demikian ia mengunyah hati orang-orang. Sesuatu

yang benar-benar fantastis dan menyenangkan.

Setelah hujan, orang-orang mengigau bermacam-macam.

Segalanya sangat menyenangkan, tapi tubuh tak bergerak,

kepala mengitung dadu. Sebuah kesangsian merenda jiwa

yang kedinginan. Sampai datang perahu

yang lebih mengasyikan.

 

“Berbuat jahat silahkan saja, kalau kau mau”

 

Hujan kembali mengguyur hati orang-orang.

Dan banjirpun mencapai leher dan kaca jendela.

Bertumpuklah sorga asing di belakang surau bunting.

Daun-daun tiba-tiba menggugurkan hijaunya.

 

“Halal dan haram, hanya berlaku

bagi  yang beriman kepada Tuhan.”

 

Tiba-tiba sebuah rumah dipenuhi orang-orang bodoh

yang menggenggam granat tangan.

 

2002.


 

MELINTASI SELAT BALI

 

Ketapang-Gilimanuk, bijimataku merenangi angin teluk.

Mengapa Dewa-Dewi menanti sesaji di seberang, sementara

laut menggadai kebahagiaan. Mengapa harus menjaga dupa

yang mengepul di hatiku,  sedang rasa sakit telah diterbitkan

pancaroba, ke perahu yang menjadi penentu arah kesunyianku.

 

Ketapang-Gilimanuk, payaulah perempuan pelabuhan!

Haruskah aku mencicipinya dengan gigi berkertakan, setelah

kutahu tak ada berahi yang lebih asin dari antrian panjang

penyebrangan. Haruskah aku menolaknya, setelah kutahu

kantuk disini lebih galak dari ombak laut pasang. Untung saja,

malam telah kularutkan, ketika pantai disini memuja para

pendatang, ketika dermaga hanya diperuntukkan bagi lelaki

yang bernyawa singkang.

 

Ketapang-Gilimanuk, angin laut mengirim salam

kepura-puraan. Aku menjawabnya dengan menggiring mata

kanan sambil menawarkan garis kemerah-merahan. Bisakah

kehidupan dibentuk dari sekuntum bunga, setelah kumbang

mabuk laut dan memilih tidur sambil bermimpi menyabung

ayam. Haruskah aku memburu jarum jam, dan menancapkannya

di langit-langit cuaca yang menghendaki aku datang.

 

Ketapang-Gilimanuk, hatiku terapung menemani air kutuk.

Deru kapal barang, dan segala yang terbincang, menerpa

sebentuk sajak yang tersandung batuk para penumpang.

Aku menghakimi perjalanan, dan hanya memyakini

bahwa terjaga di sini tak lebih berguna dari tidur siang

dengan mimpi yang terlalu panjang.

 

2002.


 

SITU PANGANTEN

 

Situ Panganten, kekanakanku berkilauan di riak air yang

selalu memintaku untuk pandai merenangi kehidupan.

Masa muda yang kutanyakan kembali pada daun-daun

bambu, pada rumput-rumput tua yang merindukan

kilatan sabit, pada pohon nangka yang sering kupanjati

dengan setengah riang dan setengah gila, menikam siang

dan menggeser jarum jam ke angka paling sial hari depanku.

 

Di sudut paling tenggara masa silam, pohon sepiku tumbuh

dengan janggut yang menyeramkan. Orang-orang sering

menyebutnya pohon seribu setan. Meski aku selalu saja

penasaran untuk memanjat dan mengajaknya bicara.

Tapi selalu saja aku pulang dengan pertanyaan lugu yang

memanjang ke sisi bendungan, mengiringi seorang mojang

yang kumantrai dengan puisi dan rupa-rupa kecemasan.

 

Situ Panganten, telaga yang merindukan sungai madu. Aku

mengaliri pipi kanan ibuku yang merindukan seorang

menantu. Suara burung yang manja, kaki telanjang para

pemancing yang gundah gulana, warna-warna pelangi

yang menghiasi masa muda, menyudutkanku ke sebuah

bilik yang digonggongi anjing pelacak, merenggangkanku

dari sebuah rumah yang dipagari ratusan sajak.

 

Ke bibir telaga, telah kupesan rahasia seorang lelaki.

Aku menjaring ikan dengan niat yang dikotori air selokan.

Semua yang menjemput, kutanam di bawah rimbunan

pohon asam. Jika tumbuh serupa kail, akan kupancing

ayahku ke rumah seorang perempuan. Dan jika tumbuh

serupa umpan, akan kubanjiri seluruh telaga, agar ibuku

mengerti bahwa hujan tak selalu membawa keberuntungan. 

 

2002.


 

NUSA BALI

 

Kembang dewi, kembang dewa, bersemayam dalam 

sukma. Singkirlah hidup, singkirlah maut, singkirlah!

Wahai jaman berantakan. Dikacau kasta di tebing harta.

memupuk sembah, merenang darah, membentuk marus

seketurunan.

 

Kembang ratu, kembang raja, merasuk ke dalam raga,

mendesing, membincang jiwa. Pesisir demi pesisir,

menghitung Kuta, menghitung Sanur, menghitung

tunas kahyangan. Kampung-kampung mengokang

wajah, menekan pura membongkar saji-sajian.

 

Kembang rakyat, kembang jelata, mendayung laku,

mengusung sikap. Kubur-kubur berkarat, penghuninya

menyulut para pertapa. Saban selatan, bianglala menanya

musim yang menangisi sawah-sawah. Saban utara, matahari

tersenyum menyaksikan timur dan barat, mengemis leak,

untuk meminta airmata segera banjir dengan gembira,

agar mengeras desingan panah yang tumbuh di kepala

pelancong mancanegara.

 

Kembang mantra, kembang sesaji, suguhan nilai dan harga

diri. Akulah paksi, akulah tombak, aku menggunung, aku

melaut, aku mengeras membata merah, membenturi dinding

hati, meliari urat nadi, menyelusupi pikiran, serupa Brahma,

serupa Wisnu, serupa Shiwa, menjelma tamu yang merasuk

dalam tubuhku.

 

2002.


 

MENCARI SUNGAI

 

Ia masih mengalir dalam pikiran, meski telah memecah,

membentuk anak-anak sungai yang melukai masa depanku,

setelah meraup ribuan warna, membidik ribuan cahaya,  dan

mengucurkan kegelisahan ke kolam darahku yang  memanas.

 

Dalam  ruhku yang kering, ia terus mengalir ke lembah-

lembah keinginan, ke pulau-pulau kegelisahan, membanjiri

hutan tropika di hatiku yang mendidih, menggila, menekan

doa-doa fana, dengan ambiguitas yang tak kunjung reda.

Pabrik-pabrik cinta, rumah tangga orang-orang gila, selasar

masa kanak yang cacar, mengirim sehimpun retorika.

 

Lalu di jiwa, terbentang ratusan jembatan bagi sungai-

sungai yang menyaingi kepala orang-orang ternama.

Segalanya membabi buta, seperti biji mataku yang dipintal

fatamorgana, sedang banjir tak juga sampai ke beranda

yang telah kuhiasi dengan kilauan kaleng-kaleng cocacola.

 

Ketika sunyi tak lebih basah dari tangisan ibu muda yang

menggugurkan kandungannya. Aku berenang di arus pekat

dengan keresahan yang porak poranda. Dan tak henti-hentinya

mengurai air, mencari sungai di  jiwaku, yang mengalir dari

hulu, gunung yang memancarkan air susu, dua puluh enam

tahun lalu.

 

2002.


 

BAD MOOD

 

Kukibarkan sajakku setengah tiang, di beranda cinta

setengah matang. Kupanggili kata yang tak perawan,

lewat kemenyan dan anggur secawan. Mulut-mulut

mandul, kepala-kepala tumpul, sajak-sajak penyair

bodoh yang tak senonoh, mengggumpal dalam jiwa-

jiwa kerdil, menggusur kuburan mantra yang dihuni

ribuan kenangan ganjil.

 

Kunikmati sajakku mati meradang, di tanah kering

yang mengguncang . Kuhakimi para penyair

arogan, dengan kesombonganku yang memanjang.

Tak ada yang lebih hijau dari kecemasan yang

berbunga. Jembatan-jembatan bambu, langkah kaki

tanpa sepatu, sesungging senyum yang menguras

keringat, kurobek dari kamus-kamus kesunyian

untuk kurindukan di malam lebam.

 

Kukencingi sajakku sambil telanjang, di sebuah kota

bernyali tegang. Kulemparkan kata yang paling tajam,

ke kerumunan penyair kolokan. Selain arah timur

kecerdasanku, segala yang berasap memompa nyawa

yang membisu di sudut rasa takutku, tahun-tahun yang

susut, membusuk dalam pikiranku yang paling subur,

sisanya hanyalah sebait sajak yang membingungkan, dan

berkali-kali menawarkan masa depan yang kian suram.

 

2002.


 

KETIKA TINTA MENJADI MUSUH PENYAIR

 

Ketika tinta menjadi musuh penyair, orang timur  sibuk

mengolah kertas layangan untuk diapungkan bersama

kegembiraan yang mengerat masa silam. Kata-kata

berlarian di kawat telpon, berterbangan menunggangi

gelombang radio, televisi dan internet. Segala komando

menukik ke ulu hati, menggeser posisi ayat-ayat suci,

meruncing dan melukai kecerdasan yang tersisa.

 

Ketika tinta menjadi musuh penyair, orang timur bersepakat

menanam ganja di halaman rumah yang dipagari dalil-dalil

kitab suci. Di setiap musim biru, anak-anak melukis wajah

sendiri di jalan buntu. Sarang laba-laba, kepala ular naga,

aurat wanita muda, meringkus kepala dan menyundul

doa-doa ke liang kubur yang menjelma kamar-kamar

hotel dengan pintu bermuka dua.

 

Ketika tinta menjadi musuh penyair, orang timur menanak

sekam untuk disuguhkan menemani botol bir, musik disko,

dan bola mata yang berjatuhan ke paha-paha pramuria. Tak

ada kata yang mengucur dari segelas anggur, kecuali salak

anjing yang bersahutan dengan suara adzan. Pada daging

usia yang menghitam, berahi akan menikam, sementara otak

kiri mengirim salam pada mesin-mesin yang bergumam.

 

2002.


 

KEPENYAIRAN

 

Kehidupan adalah ibu tiri bagi janin kata-kata

yang terlahir dari rahim kegelisahan

Kegelisahan adalah bahasa bising

yang mencabuk sunyi di sekat-sekat kegembiran

Kegembiraan adalah kota tua yang tercipta

di pedalaman masa muda.

Masa muda adalah magma yang diledakan

di jeruji bait puisi

Puisi adalah reruntuhan nafas yang berhembus

ke jiwa-jiwa kepenyairan

Kepenyairan adalah sekotor-kotor

dan sesuci-sucinya kehidupan.

 

2002.


ANGKUH

 

Aku ingin mengira

seekor harimau akan menerkam,

jika aku tak membuat sebuah kandang.

Aku ingin mengira

bisa mengagumi hal yang samar,

jika aku yang paling terang. 

 

2002.

 

MENGEJA TANDA-TANDA

 

Susah sekali mengajariku mengeja cinta,

mengeja cemburu, mengeja warna-warna

yang berpendar di kendi-kendi airmataku.

Ejalah rahim ibuku, lalu ajari aku mengeja

air susu. Susah sekali mengajariku mengeja

doa yang memanas pada sebagian aortaku.

 

Susah sekali mengajariku mengeja rasa sakit,

mengeja rasa takut, mengeja angka-angka

yang berkutat di tepi jam dan almanak.

Ejalah mata air keheningan, lalu ajari aku

mengeja keterasingan. Susah sekali mengajariku

mengeja cahaya yang membunuh kematianku.

 

Susah sekali mengajariku mengeja resah,

mengeja risau, mengeja tanda-tanda yang

mengucur ke sela rusuk dan kulit kepala.

Ejalah sorot mata kegelisahan, lalu ajari aku

mengeja hutan larangan. Susah sekali

mengajariku mengeja sunyi, mengeja puisi.

 

2003.

 

 

PENYAKIT ELEKTRONIKA

 

begitu banjir merajalela

di setiap rumpun bambu

bertunasan pabrik kertas

yang membelit ulu hati

dirayu lenggak-lenggoknya keris

membolak-belok kepala di medan laga

 

samar-samar zikir-zikir lipatan kafan

berbisik dari hulu kata-kataku

sedang darah menjelma tinta

mengerat hati yang merintih

mengiringi Bernstein dan Chopin

mengiringi nyawa yang dikejar silalatu

menanti tangis menunggu umur

yang ditamengkan di medan laga

 

menemui indung siang

di tanah kelahiran tanggul perang

ribuan peluru mendesing di kepala

ribuan sajak berantakan jadi sampah

bagaimana takkan mengelupas hati ini

tahun-tahun ungu

terus-menerus mengirim bisik

membening di cianjuran

memunggungi igauan di medan laga

 

jika puisi memaksa nginap

akan dibaiat satiap disket yang meratap

setiap memuncak getar bayangan

pada bisikan aneh

yang istirah di medan laga

 

2003


 

PENYAKIT SELENGKAPNYA

 

tetap saja

sepanjang sibuk diburu tuyul

yang menggulung di kepala

sepanjang lari dikejar lembaran uang

yang melolong menuntut sembah

tetap saja

meski lihai mengurung musim paceklik

yang membendung tiap pepatah

meski cepat menandingi rasa sakit

yang menggunung melawan bisa

tetap saja

pasang semedi setiap gerak

menggangu-gugat keinginan

merangkai-rangkai bayangan

setiap mendung memanggil bulan

setiap gerhana melawan jam

 

tetap saja

secawan banyu khayangan melaut di airmata

ketika pangkal harapan bertamu dalam pikiran

saat urat inertia sedu-sedan meminta-minta

sedang gunungan siap menancap

di hitam mata yang kehilangan ketajamannya

 

tetap saja

sepesisir rintangan

menyelusup di setiap doa

sedang masa pasti sampai ke lelancipnya

sedang hidup akan memecat dari sarungnya

 

2003

 

 

 

UPACARA

 

18:30:00 waktu Indonesia.

Berhelai-helai sajadah berterbangan ke cakrawala,

memburu waktu, memburu masa, memburu rabu,

memburu jumat, memburu rindu, memburu kesumat,

memburu serdadu, memburu siasat, memburu aku,

memburu mereka, memburu kamu, memburu kita,

memburu burung-burung yang berterbangan dari

hati yang menyangkari masa depan.

 

00:00:00 waktu Indonesia.

Berpuluh-puluh rumah dibakar, cinta meleleh-mengalir

membentuk mendung. Ayat-ayat minor mendesak

kepala, menghardik warna-warna, memangkas lidah

dan menggunduli suara-suara. Segala rasa sakit

mengundang doa, mengundang mantra, mengundang

tuhan dan setan, mengundang surga dan neraka,

mengundang hitam dan putihnya kematian.

 

03.59:59 waktu Indonesia.

Berpasang-pasang mata meminjam jendela. Rambut

menguban memastikan tempat pemberhentian. Pada

kata telah dititipkan kesunyian palsu yang kehitaman.

Ke angka-angka telah dipesan kegembiran aneka ragam.

Lalu risau menghimbau musim kemarau, melerai

kegelisahan yang melambai, menjembatani usia

pada sepiring penganan yang menikam sebagian.

 

2003.


 

MUSIM KEMARAU

 

Tapi, beginilah musim kemarau Asia Tenggara.

Garam yang berkilauan, kerutan tanah kering,

Batuk orang-orang renta, usia, usia mengasini

segala yang mengencang, dan perjalanan

melingkar-lingkar mencapai lengkung terjauh

kota batu. Mari membakar kartu-kartu dalam

tungku keberuntungan, menyaingi arang

yang melegamkan kematian-kematian.

 

Jika tak segan, segala yang berdebu akan

menggeser orang-orang ke usia empat puluhan.

Dan tahun-tahun Asia Tenggara menyusutkan

kepala para cendekia. Masih juga warna kulitmu

mengalir ke bendungan yang dibangun ikan-ikan.

Tapi memang beginilah air susu ibu mengalir sedih.

Musim kemarau ini terlalu ngilu. Bahkan rumah,

masih saja mengganggap dirinya abu-abu.

 

Juga tak asing jika kegelisahan mengantongi darah

para miskin. Dan di Jakarta, telah berkibar gambar

raksasa yang menyuguhkan airmata. Tapi beginilah

musim kemarau Asia Tenggara.  Bahkan telah

menyusul rasa sakit yang ditunggu. Jika tak lelah,

mari menemani Jakarta mengerami telur cuaca.

Atau panggang saja doa-doa yang terbasah.

Karena bara ini masih terkepal dengan

cemburu yang mengepulkan asap tebal.

 

2003.


 

 

TAHUN KELAHIRAN

 

Tahun kelahiran pun menjadi daun-daun

pisang yang merimbuni kebun keluargaku.

Dan musim biru mengasuh serdadu,

melampaui kecerdasan ibu-bapakku.

Lalu tiap kepala membentuk wajah serupa

dalam  bait-bait sajak dukun beranak.

 

Pada pelepah usiaku yang mengusung

purnama di titik terlambat  arah jarum jam,

tahun kelahiranku memahat gadis pada rumah,

ketika nada-nada minor siulan bapakku,

menghentikan biji-bijian mencinta tanah,

dan birahi yang dikucilkan musim basah.

 

Kini, Segala yang merambat membagi

jarak pada peta jiwaku yang berwarna. Tak ada

musim panen yang melahirkan tahun bisu,

selain ibuku, menunggu menantu di jalan buntu.

Selain aku, menanam tahun dalam puisi, tumbuh

menjadi anak-anak yang kulahirkan sendiri. 

 

2003.


 

MENJADI DUNIA

 

Menjadi mesin, menjadikan orang sebagai

budak yang merelakan bunuh diri sambil

membungkam kehendak. Lalu dunia serupa

bayangan yang tak henti-hentinya meronta.

 

Menjadi jarum, menyulam orang-orang

yang enggan mengaum, merangkainya

dengan kain luntur. Lalu darah bercampur

dengan berita simpang siur.

 

Menjadi benang, menelusuri orang-orang

dengan santun, menikmati mulut-mulut

yang menjilat senyum. Lalu hati bergeser

ke kota-kota yang dihuni para penyamun.

 

Menjadi pakaian, menutupi sisa nyawa

yang mengendus bumi dengan rasa hormat

berlebihan. Lalu cinta hadir lebih berharga

dari kematian yang dicita-citakan.

 

Menjadi apapun, mengapa hidup yang

berangkat dari dunia harus menuju dunia.

 

2003.

 


 

BERTAMU

 

Meneguk teh pada gelas yang congkak, tanpa

basmalah, bibirku membekukan ruang tamu,

melesatkan ratusan peluru, menyandera penganan,

dan mengunyah percakapan dengan gigi palsu

yang pura-pura kubanggakan.

 

Lalu sorot mata membenturi cuaca, mengolah

gelisah yang kulukis tanpa sengaja. Tapi puisi

yang kualirkan ke lautan telah diragukan ikan-ikan.

Tak ada makna yang sakit, selain doa-doa yang tak

diperhitungkan Tuhan, selain jamur dalam dadaku

yang mengakar pada sajak-sajakku yang memar.

 

Ke tepi meja, aku menggeser risau, bersama usia,

perjalanan, rasa sakit, dan butiran garam

yang berkilau di hatiku.

 

2003.

 


 

SETERIKA ARANG

 

Bersama ibu, bara api, seragam putih-biru,

sebelum subuh, sebelum ayam betina mengeluh,

sebelum sekolah, sebelum upacara,

sebelum kukibarkan bendera,

sebelum kecemasan ibu membabi-buta.

Segalanya terpanggang di bara arang,

melicinkan putih-biru, dengan sedikit ragu.

 

Wangi arang, kantuk ibu yang menegang,

pekerjaan rumah, menghapal cinta,

persiapan ulangan, dan kantukpun berulang.

Ibu masih menyeterika, bersama masa depan,

bersama keraguan, bersama semangatku

yang dibakar seterika arang.

 

Bukankah hidup tak selalu harus seragam,

seperti dunia mana yang harus kugenggam,

seperti bendera mana yang harus kukibarkan.

 

2003.

 


 

LAIS - IPUH

 

Pesisir Sumatra yang mengejutkan, hati ayahku

yang berloncatan, banjirpun membiarkan masa

kecilku menghakimi perjalanan. Cuaca seperti

mengejar airmataku, sementara malam sudah

sepertiganya kusangsikan. Dan kematian, sudah

mendekat perlahan-lahan.

 

Lais-Ipuh, perjalanan abu-abupun harus ditempuh.

Aku memompa nyawa ke hati adik-adikku yang

merindukan kampung halaman. Tapi laut masih

pasang, dan cinta kian terguncang, sementara

dari arah utara, orang-orang Melayu dan Enggano

memagari ladang dengan pohon-pohon kecurigaan.

 

Bengkulu Utara, antara musim kemarau dan mulut

ibuku yang berdarah payau. Aku menjelma gula

dan memaniskan perjalanan dengan senyum

yang tak pernah kumerdekakan. Dan aku terus

berjalan, dikepung masa depan yang mengokang

sembilan belas tahun silam.

 

2003.

 


 

KUSIMPULKAN HITAM PUTIH

 

Selain sunyi kusimpulkan segalanya

hitam putih. Segala yang kelabu

mengantar mantra ke arah tenggara

kecerdasanku. Kata-kata menyebrang

ke pulau kuyup, membentuk seratus

puisi yang mengiringiku menari.

 

Selain sunyi kusimpulkan segalanya

hitam putih. Segala yang melumuri hati,

kucemarkan ke gunung-gunung.

Anak-anak tiri berseru memaki

sajak-sajakku. Sajak selayak granat

yang enggan meledak, sementara

orang-orang terlanjur tiarap.

 

Selain sunyi kusimpulkan segalanya

hitam putih. Selain sebuah rahasia,

bahwa sajak-sajakku merindukan

kilau pelangi di musim bisu.

 

2003.

 


 

MEMANCING

 

Tiba-tiba para penyair memancing ikan pada

sajak yang berair kecoklatan. Sungai-sungai

murung. Pantai-pantai merindukan langit mendung.

Mengapa harus mengorbankan ombak, untuk

menyuapi kesabaran. Mengapa harus mengalihkan

arus pasang untuk menghadirkan kegelisahan.

 

Lalu pada kail dipasangkan umpan dari sebentuk

retorika yang dicemburui musim hujan. Orang-orang

mundur teratur dari tempat pemancingan. Tak ada

yang mendapatkan dirinya basah. Juga tak ada yang

merasa dirinya kering. Tapi para penyair terus

memancing dengan teori-teori jitu yang mendesing.

 

Bersama kata-kata musim basah, para penyair

Menghadirkan cinta untuk mendapatkan kerinduan.

Sedang usia terus menggerogoti umpan yang tersisa.

Sementara ikan-ikan telah dijaring para nelayan

dan disuguhkan kepada para penyair beberapa saat

sebelum pergi ke pemancingan.

 

2003.

 

 

 


 

TARAJU

 

Akar-akar pohon menyungsang dalam batinku.

Melulu daun teh yang kauseduh dengan doa.

Pada senja yang membata, serat daun

menjelma rahasia. Orang-orang menggulung

anak mereka dalam keinginan sederhana.

Sementara aku kian lama kian menderu,

setelah pikiranku dijejali buku-buku dengan

cinta yang berwarna abu-abu.

 

Taraju, hawa dingin yang melahirkan ribuan

ambigu. Seorang perempuan menanam teh

pada kebun di jiwaku yang gersang. Berjanji

mengirim musim dingin pada gelisahku yang

berdebu. Aku mengitari perkebunan

sambil mencoba memahami kehidupan kecil

yang selama ini kukerdilkan. Ulat-ulat daun

membisikan salam, menjelaskan bahwa

dunia yang kulukis tak lebih sempurna

dari tunas-tunas yang bertebaran di sana.

 

Taraju, seluas kebun teh yang berpura-pura

gembira. Aku menghisap beribu makna, ketika

orang-orang tetap menbudak. Teh  yang diseduh

keringat kuli pemetik, melulu bukan untuk diminum.

Segala yang luas membentang adalah kemiskinan.

Dan aku memburu hujan disana yang terus

melukai orang-orang yang masih menikmati

menjadi kuli perkebunan.

 

2003.


 

 

PUISI & TENUNG TAHUN BARU

 

Lalu tahun-tahun menenun selimut pada sajak

yang keriput. Bagi yang dibesarkan tanda-tanda,

telah mengalir dari tanah sunyi,

Izrail yang menghijaukan airmata.

 

Lalu tenung waktu merasuki usia. Ibu-ibu

menghentikan air susu seketika. Anak-anak

mengantar cinta ke dermaga, dan melepasnya

dengan suka cita. Sementara di seberang hari,

tahun-tahun menelan obat pada rasa sakit

yang menyengat.  

 

Lalu kata-kata menyebrang musim menuju  

sebuah sungai yang dihuni mulut-mulut

yang gemulai. Tahun-tahun cemburu,

menggiring perahu ke pesisir pulau bisu.

Tiba-tiba dari timur arah kubur, orang-orang

berpesta merayakan kerugian

yang datang perlahan-lahan.

 

Lalu puisi, menabung kematian dengan bunga

100 persen bagi setiap perselingkuhan.

 

2003.


 

 

AKU MULAI MENYUKAI HUJAN

 

Aku mengunjungi sebuah negeri, tempat orang-orang

mengumpulkan kayu untuk membakar diri. Tempat anak-anak

menanam biji saga di sela-sela rumput muda. Tempat Bunga

kecubung mekar dengan gembira. Sesekali aku berhenti

dan memuntahkan air seni.

 

“Hoi! Lihat di sana! Guci tanah berpita merah itu

Anggurnya kian gelisah.”

 

Aku sampai di sebuah stasiun kereta dengan lokomotif uap.

Bersama beberapa ekor kijang, aku berteduh sambil mendengarkan

nasihat lelaki baik. Aku melingkari lantai dengan arang sambil

melempar-lempar mata dadu. Sesuatu tiba-tiba terjadi di sana.

Orang-orang menggoreskan luka di pipi kirinya, setelah sebilah

pedang berhati lembut, menyeka sebagian nasib yang mengucur ke lautan.

 

Sampai ke sebuah dermaga, di suatu senja yang berloncatan

di antara hari-hari yang melingkar di kepala.

Aku mulai menyukai hujan dan mencumbunya sepanjang jalan.

 

2000

 


 

PERTEMUAN TERAKHIR

 

Kegembiraan datang bersama jatuhnya daun-daun.

Kuketuk sebuah pintu, di mana kau biasa

menjadi arca. Irama piano tua masih berloncatan

di udara, lalu menukik ke belantara hatiku.

 

Merenungi perjalanan, melahirkan siluet

kenangan yang memerah. Aku menghalau hujan

dengan sehelai saputangan. Pohon-pohon ketapang

memaksakan adzan ke telinga. Angin yang menderu,

kian lama kian menakutkanku. Sampai kau mengirim

sebaris senyum dari sebuah pintu.

 

Aku duduk di sebuah ruangan yang dipenuhi

lukisan perempuan. Lantai berdebu meyakinkanku,

bahwa kau adalah Dewi keabadian. Kulingkarkan

sebuah cincin ke ulu hatimu sambil menyingkapkan

kerudungmu dan menebarkan anak-anak rambutmu

ke dalam hari-hari yang akan kita tangkap

dan kita penjarakan.

 

2000

 


 

MISTERI SEBUAH BERITA

            -

buat Nina Minareli

 

Pagi yang gelisah, aku menangkap desing peluru dari

cuaca ngungun. Lalu bersama kawan membangun mercusuar.

Ada serpihan ombak di hati, mungkin telah mengental

dan menjelma keyakinan. seperti pengayuh sampan di muara,

aku membiarkan keringat ini menetes ke batinmu yang berkecamuk.

Tiba-tiba wajahmu berubah jadi boneka yang kesepian.

 

Ke kotamu, aku menitipkan kabar hitam. Rumah-rumah jadi puisi,

dan berpura-pura sepi, seperti kata ‘selamat tinggal’ yang ditembakkan

ke dadaku. Lalu kuhias penjara demi penjara dengan improvisasi kematian.

 

Di antara bebatuan, dan udara yang melingkar-lingkar di genggaman,

aku ingin menutup telinga dengan kawat yang dipanaskan dan pisau-pisau

yang dipanaskan. Sementara, mengingat namamu saja, kepalaku mendidih

dan mengucurkan darah kecoklatan. Tiba-tiba ada yang membengkak

di antara urat leher dan sorot  matamu, dengan benang merah

yang membelit ulu hati.

 

2000

 


 

IMPROVISASI KEMATIAN

    

       - buat Saeful Badar

 

Ah, dering telpon bagimu adalah suara adzan. Atau mungkin penyakit

menular yang tak bisa disembuhkan. Lalu kau berguru kepada hujan.

Lalu kau sebarkan amis darah dari mayat yang kesepian. Lalu kita 

menggigil dengan jiwa yang porak-poranda.

 

Akhirnya kita mengembara, seperti bajak laut yang menutup mata kirinya.

Seorang ibu berselingkuh dengan metafora yang mengucurkan keresahan.

Sebuah rumah makan mewarnai kepala dengan perempuan yang ditelanjangi

tatapan mata. Puisi-puisi tiba-tiba jadi betina yang menjajakan insomnia

berabad-abad lamanya. Sedang kita masih menambahkan kata-kata

pada grafiti yang memenuhi dinding hati.

Dan semua kenangan jadi lebih berarti, setelah kita terbakar

dengan benjolan sebesar kepalan tangan.

 

2000

 


 

IN SOLITUDE

   

 

Seperti di pertempuranmu, tanah-tanah memercikkan lagu

dendam. Seribu tentara merindukan hujan, sungai-sungai

kerontang jiwanya. Setiap perempuan menyembunyikan auratnya

di perahu yang berlayar tengah malam. Lalu kita menjadi

sangat dewasa , dan mendambakan hadirnya bayi yang

bersenjata. Tak ada lagi sawah-sawah yang basah tubuhnya,

hutan-hutan meneriakkan mantra sepinya. Kita jadi pohon

yang lapuk akarnya. Kita jadi batu yang paling gelisah.

 

Di suatu waktu, sebarisan alang-alang dengan bayangan

yang lebih panjang mengapit pematang rel kereta.

Suara adzan menjadi irama yang berloncatan di udara, terbang

menghindari seribu tahun pemujaan, menghindari gerimis dan

lukisan peri hujan. Dalam kesunyian, kita tiba-tiba jadi peluru

yang paling tajam, dan menyatakan hidup sebagai perburuan.

 

2000

 


 

BUAT PEREMPUAN DINGIN

 

 

Datang ke lubuk hatimu, Nie, tanganku mengalirkan tinta

merah, seperti penyair kolokan yang kasmaran. Kaukatakan

jadilah perompak di sana, biar cinta kita payau, atau

asin sekalian. Tapi cintamu teramat dingin, menyentuhmu

saja aku beku, dan kiranya mencintaimu jadi tak perlu.

Tapi tetap saja aku mencintaimu, mencintai bibirmu yang

Lebam, mencintai rambutmu yang kemerahan, mencintai

tubuhmu yang kesemutan, bahkan aku mencintai gigimu yang

hitam sebagian.

 

Aku membayangkan bulu matamu jadi gerimis, lalu kau

berlari ke jalanan sambil telanjang, sambil memanggil-

manggil boneka mainan, sambil terus bercinta dengan hujan,

dan melengkapkan ejakulasi dengan sperma yang menjelma

bayang-bayang. Sementara kita jadi pelangi dan berpura-pura

mewarnai percintaan. Tapi aku tetap saja memelukmu dalam

mabuk. Meski pelaminan kita adalah sepotong puisi yang

kusetubuhi berulang-ulang. Tiba-tiba, kau menyihir

payudara menjadi kelapa muda yang melenyapkan

dahagaku. Dan kukatakan, kau memang dingin, Nie.

Aku tetap saja merindukanmu.

 

2000

 


 

SUATU SENJA DI SIMPANG LIMA SEMARANG

 

 

Suatu senja di Simpang Lima Semarang. Aku membuang kata-

kata seperti anak-anak menaburkan pasir ke udara. Rangkaian

bebukitan mengingatkanku pada nasib yang melingkar di

setiap denyut nadi. Kureguk segelas kopi sambil merenungi

tharikat para sufi. Adzan yang mengemasi waktu mengikatku

pada Tuhan yang kurasakan semakin jauh. Jauh sekali. Seperti

sebuah percakapan panjang yang luluh dalam cuaca.

 

Suatu senja di Simpang Lima Semarang. Orang-orang

mengencani matahari sambil membugilkan diri. Lalu

menghamili wajah kota dengan mata memerah. Aku menyusuri

taman sambil memaksa rerumputan untuk tumbuh dengan

ikhlas, untuk menghijau dengan gembira, atau sekedar

melantunkan tembang angin yang bertahun-tahun menjadi

anak tiri. Tapi debu di sana teramat ganas, seperti tinta yang

membercak dalam hati orang-orang yang mendekati usia empat

puluhan.

 

Suatu senja di Simpang Lima Semarang. Aku merenda

pandangan dalam sepercik puisi yang kualirkan ke dasar hati

paling dalam. Sebuah café yang riuh menyihir orang-orang

menjadi para pelancong yang membuang uang sambil

tersenyum. Aku melintasi batas ambiguitas yang menggunung

di kepala, mencapai sebuah lengkungan percintaan yang paling

tajam. Dan kulengkapkan keringat yang menetesi jiwaku

dengan airmata yang tak henti-hentinya kurindukan.

 

2000

 


 

TAMAN BELUKAR

          

 : Waloeyohadi

 

Sebuah jembatan, di perkampungan nelayan.

Rumah-rumah menjadi hutan , kayu melulu.

Kami menyindir teluk awur dengan kantuk

berkepanjangan. “Selamat pagi kawan!

Nyamuk di sini lebih ganas dari macan”.

 

Sebuah jembatan, di sungai Krapyak yang berduka.

Orang-orang tanggal giginya, digergaji para pendatang.

Kayu melulu, kini bukan lagi punyamu. Kami melintasi

sungai Kanal, di mana perahu-perahu

ditambatkan. Kau adalah pertapa yang merindukan perjamuan,

seperti semak-semakmu merindukan anjing hutan.

 

Sebuah jembatan, di semak belukar yang nanar. Ombak

pantaimu mengisyaratkan genderang perang. Lukisan cuaca

mengingatkanku pada kawanmu yang lebih gelisah dari kayu-kayu jati itu.

Sementara para nelayan melaut dengan keringat yang mempayaukan

kehidupan, kau sedang mabuk dalam kasmaran yang menggila.

 

Sebuah jembatan, di antara hatimu dan para pengrajin kayu.

Kami mengemas belukarmu menjadi sunyi yang mengalirkan mimpi

ke lautmu, sementara kepura-puraan jadi begitu bermakna.

 

2000

 


 

DALAM SUNYI, MENGEMBARA BEGITU JAUH 

 

Seseorang pernah berwajah serupa aku

Lalu ia menjadi serupa arang

Tiba-tiba aku berubah jadi serupa pohon

Orang-orang mengira aku kayu bakar

 

Aku membuat tungku di atas lumpur kecoklatan,

di musim hujan, dimana api jadi berarti.

Kulukis rasul Ibrahim dalam jiwa,

dalam kehangusan cinta, dalam kembara

yang membakar seluruh kehidupanku.

 

Aku membakar kemenyan untuk memasung

kesadaranku, untuk mewangikan pencerahan

hidupku, untuk menyucikan sunyi di mana aku

mengembara, di mana kematian menyergapku

berulang-ulang.

 

Kini aku mendidih, ruhku mengembara dalam kata-kata.

 

2000

 

 


 

BEGITULAH PUISI KULAHIRKAN

 

 

Aku membangun kata-kata dengan darah sambil menidurimu

di sela-sela riuh kota. Aku mencium amis tubuhmu dalam

sepotong sajak yang kehilangan tenaga. Kau menangis di sini,

seperti gerimis, seperti badai, seperti ombak, seperti aku

merampas airmatamu.

 

Aku mendengar detak sepatu yang gelisah di sebuah terowongan

yang telanjang. Aku tertidur seratus tahun di tanah basah dengan

tubuh dilumuri sabun perempuan. Kau tersenyum di sini, meski penyakitan,

meski tak lagi perawan, meski jadi mainan, meski aku menjual airmatamu.

 

Aku terjaga. Kau melahirkan bayi laki-laki yang

kehilangan senyum, tangis dan airmata.

 

2000


 

DI KOTA BENGKULU

 

Jiwaku yang hijau mengelupas dalam alunan lagu-lagu melayu yang lembut.

Rumah-rumah beratap seng memantulkan sinar abu-abu pada keluguanku.

Kususuri jalanan licin sambil memanggil-manggil adik bungsuku yang berlari riang.

Sementara orang-orang dari Jawa yang kucari tertimbun dalam tumpukan peta,

aku sudah terbelit separuh impian yang membelah dalam pendakian yang terjal.

 

Tak ada sebab kulukis masa kecilku di benak ayahku dengan kanvas yang

dibentangkan di sepanjang pesisir Sumatera. Warna-warna muda menghiasi

bebatuan yang kuinjak tanpa sengaja. Hujan tak mau turun kala itu. Tapi aku

kerap menampung gerimis dari Kedua pipi ibuku, seperti bahasa kanak-kanakku

yang ditembaki orang-orang.

 

Kalau saja aku bisa menulis puisi kala itu.

 

2000

 


 

KITA DARI PENJARA YANG SAMA

 

Sunyi sepertinya milik kita, meski orang-orang membungkam seribu

doa dengan peluru, meski candu memabukkan rangkaian kenangan

yang terpatah-patah, meski udara lebih berat dari sajakku yang kemerah-merahan.

 Aku memandang wajahmu dari penjara, hatiku teramat mencekam.

 

Di manakah Peri hujan yang menyejukkan aura rindu dengan

gumpalan-gumpalan mendung. Di manakah puing-puing cinta yang

tercecer di jazirah mimpi berabad-abad. Di manakah Swargaloka

yang menawarkan keabadian, setelah seluruh darahku lebam dalam kenangan.

Kita telah melewati dunia fatamorgana yang tak hentinya membangkitkan dahaga.

 

Seperti kau mendidihkan kerinduan dengan airmata, aku menjadi puisi.

Kata-kata adalah misteri yang tumbuh sebelum kita dilahirkan.

 

2000

 


 

SENSE OF AMBIGUITY

         

  : Nurulia Resti

 

Seperti mengukir kenangan dalam mimpi, hujan bukan satu-satunya

bahasa yang paling basah. Seperti juga kau yang tak henti-hentinya

menghalau wajah lelaki untuk memantrakan percintaan, seseorang mungkin

 telah mengemas rindunya di balik kerudungmu

yang menebarkan keraguan.

 

Suatu senja yang buram, telaga beriak menyengaja. Kau menjentikkan jemari

sambil mengulurkan umpan ke dasar jiwa paling dalam.

Lelaki adalah ikan yang memburu keabadian. Ia akan mencari air terjernih

untuk sesuci dan mengabdikan diri. Begitu ia terdampar di pantai hatimu

dengan air yang asin sebagian, ia akan memilih mati untuk menyelamatkanmu,

daripada memilih mati bersamamu.

 

Suatu malam dengan sunyi yang perlahan, kertakan rahang lelaki rupanya

lebih menyeramkan dari lolongan anjing hutan. Tapi kau tetap saja merindukan

mercusuar yang jauh. Cahaya keperakan yang menembus cakrawala adalah

gerhana paling memilukan dari buku harianmu. Seorang lelaki yang memanjati

benteng musuh, mungkin akan membawa bendera putih untuk dikibarkan.

Meski semua kenangan percintaan membasahi seluruh dinding, seperti

airmatamu yang mengaliri sungai-sungai kerinduan.

 

Kini kau berpendar dalam anggur yang direguk sunyi. Menjelma airmata paling

dingin yang semestinya kautuangkan ke setiap semedimu. Agar kau yakin

bahwa yang terjadi adalah gempa paling bermakna yang diguncangkan

Tuhan kepadamu.

 

Pada suatu ketika, kau akan menyadari bahwa hidup adalah lautan percintaan

yang teramat payau.

 

2000

 


 

KUSETUBUHI KAU DENGAN PUISI

         

  : Nurulia Resti

 

Aku memahamimu sebagai penyair, kusetubuhi kau dengan puisi.

Ketika orang-orang tak lagi menghargai sunyi.

 

Aku memahamimu sebagai penyair, kusetubuhi kau dengan puisi.

Ketika cinta tumbuh dari bulir padi yang jatuh ke dasar jurang.

Sementara helai-helai rambutmu tak lagi menampung hujan.

Kenangan adalah suaka paling bijak untuk membaptis jiwa

yang merindukan keabadian.

 

Aku memahamimu sebagai penyair, kusetubuhi kau dengan puisi.

Alis matamu lebih runcing dari duri yang menancap di dadaku.

Sungai-sungai yang gelisah adalah kita yang mengalir di permukaan.

Kita adalah kiambang-kiambang kecoklatan, tanpa kemampuan menyelam.

Mutiara selalu di dasar lautan. Sementara kita memilih hanyut dengan airmata

yang mengganaskan arus ke sebuah air terjun yang curam.

 

Aku memahamimu sebagai penyair, kusetubuhi kau dengan puisi.

Ilalang yang berembun adalah tangisan yang menyulam seribu puisi

menjadi titian cakrawala, seperti Thitonos yang membawa Aurora ke

Nirwana. Tapi kau masih saja mencumbu kerinduan dalam temaram.

Meski pelangi telah menebarkan warna-warna pastel untuk melukiskan

percintaan, dengan menggenapkan sehimpun penantian dan sebentuk harapan.

 

2000

 


 

BUAT IMAS KURNIATI

 

 

Dan mungkin di sana akan lahir seekor burung

pipit yang manja. Dalam sajak penyair menjaili

kata-kata sambil berdzikir dan berkali-kali

tertimbun retorika. Lalu berkicaulah burung-

burung di panggung dan hinggap di menara.

Dan diantara kerudungmu, kau sekap ia

di hutan Bogor yang puber pohon-pohonnya.

 

Gairah percintaan menetes lagi, seperti

cairan sperma yang menghanguskan rambut

dan bulu dada. Seorang sufi menuangkan

anggur ke piala beracun. Perempuan

berkerudung kau melengking lagi lebih

panjang dari sorot matamu yang menancap

dalam sajak. Lalu dunia jadi sangat manis

dan melahirkan burung pipit yang terkurung

dalam sepotong kata yang haram untuk

diucapkan.

 

2000


 

LAPANGAN GOLF

 

 

 

Sebuah jendela, susunan terali besi yang kehitaman,

pandanganku menembus kerimbunan pepohonan.

Orang-orang berjalan dengan kaki yang dibengkokkan.

Daun-daun padi mengusik petani muda yang gundah gulana.

Sang kasmaran meletup di sawah kehijauan.

 

Matahari menyipitkan cahayanya, lebih tajam dari bulu mata.

Sebuah dangau penuh sesajen mengingatkanku pada ritus

percintaan. Barisan pematang menyihir telapak kaki para

pendatang. Tumbuhlah di sana pohon jadi-jadian.

 

Masih dari jendela ini, kini kusaksikan anak-anak bunuh diri

perlahan-lahan. Daun-daun padi membunuh petani diam-diam.

Lalu tumbuhlah rumput-rumput yang lebih liar dari hawa perkotaan.

 

2000

 

 

Menu puisi Sunda
Menu puisi berbahasa Indonesia
Arsip  sajak Sunda